Selasa, 04 Desember 2018

Komunikasi Pariwisata sebagai Penunjang PAD SULTRA

Komunikasi Pariwisata Sebagai Media Promosi Dalam Penunjang Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tenggara

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Pelaksanaan pembangunan daerah pada dasarnya merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah dan menserasikan laju pertumbuhan antar daerah di Indonesia. Otonomi yang diberikan kepada daerah Kabupaten dan Kota dilaksanakan dengan memberikan kewenangan yang seluas-luasnya, nyata, dan bertanggung jawab kepada pemerintah daerah secara proporsional. Artinya, pelimpahan tanggung jawab akan diikuti oleh pengaturan pembagian, dan pemanfaatan serta sumber daya nasional yang berkeadilan, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah. Dalam mengurus dan mengatur rumah tangga sendiri, sudah barang tentu daerah memerlukan biaya yang cukup besar guna membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di daerah. Oleh karena itu daerah diberi hak dan wewenang untuk menggali sumber-sumber pendapatan daerahnya sendiri. Sumber-sumber pendapatan asli daerah (PAD) di antaranya: Hasil pajak daerah,  Hasil retribusi daerah, Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan; Dana Perimbangan; dan lain-lain pendapatan daerah yang sah.
Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) merupakan Provinsi pecahan dari Sulawesi Selatan itu telah tumbuh menjadi daerah mandiri yang menyimpan kekayaan alam berlimpah. Kekayaan alam yang tersimpan di provinsi yang beribu kota di Kendari itu antara lain emas dan nikel. Selama delapan tahun terakhir, Sultra mengalami peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). 
Pendapatan Asli Daerah yang selanjutnya disebut PAD adalah potensi sumber penerimaan utama dari APBD. Berdasarkan pada ketentuan bahwa daerah otonom berhak mengatur dan membiayai rumah tangganya sendiri sesuai dengan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah yang menyebutkan bahwa PAD terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain PAD yang sah. Keberhasilan pemerintah daerah dalam upaya membangun ekonomi di wilayahnya tergantung pada kemampuan aparaturnya untuk dapat memobilisasi potensi yang ada pada masyarakatnya melalui optimalisasi peningkatan PAD. 
1.2. RUMUSAN MASALAH

  • Bagaimana strategi peningkatan pendapatan asli daerah(PAD) sulawesi tenggara melalui pariwisata?
  • Strategi promosi pariwisata yang dilakukan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah(PAD) melalui wisata?
  • Faktor-faktor apa yang berperan dalam pengembangan industri pariwisata dalam meningkatkan pendapatan asli daerah(PAD)?



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Strategi  Peningkatan  Pendapatan  Asli  Daerah (PAD) Sulawesi  Tenggara  Melalui Pariwisata
Dalam melakukan perjalanan wisata, seorang wisatawan memerlukan bermacam jasa dan produk wisata yang dibutuhkannya. Berbagai macam jasa dan produk wisata inilah yang disebut dengan komponen pariwisata. Komponen pariwisata ini dapat disediakan oleh pihak pengusaha, masyarakat, atau siapapun yang berminat untuk menyediakan jasa pariwisata, komponen pariwisata meliputi komponen dalam penyediaan destinasi pariwisata dengan komponen yang dimuat di Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan pada pasal 1 ayat 6 yaitu:
  • Objek dan daya tarik wisata
  • Fasilitas umum
  • Angkutan wisata / aksesibilitas
  • Sarana dan prasarana
  • Serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan.
Dengan mengetahui komponen destinasi pariwisata di atas, maka arah pengembangan pembangunan pariwisata bisa terarah dengan baik. Banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh jika pembangunan pariwisata ini terarah dan bisa memancing minat wisatawan untuk berkunjung.
Sasaran yang akan dicapai dalam rangka otonomi daerah seperti yang tertuang dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah dalam pelaksanaan pembangunan dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat harus dapat menggali potensi yang ada di daerah termasuk sektor pariwisatanya.
Strategi untuk meningkatkan PAD yang digagaskan oleh Fandeli (2000), yaitu: Strategi Pengembangan Pariwisata, Strategi Pengembangan Produk Wisata, Strategi Pemasaran dan Promosi Pariwisata, Strategi Penegmbangan Aksebilitas, Strategi Pengembangan prasarana untuk menunjang kegiatan pariwisata dan Strategi Pengembangan Usaha.
Untuk perumusan strategi peningkatan pendapatan asli daerah(PAD) melalui sektor pariwisata dapat dilakukan dengan mengidentifikasi informansi terkait komponen SWOT. yaitu evaluasi terhadap keseluruhan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman menurut Kotler (2008 : 88).
Dari   analisis   SWOT   tersebut   dapat   diperoleh strategi yang akan diusulkan dalam upaya peningkatan pendapatan asli daerah(PAD) sebagai berikut: 
Strategi   menggunakan   kekuatan   internal  dalam   meraih   peluang  yang   ada,   antara   lain   dengan   mewujudkan  meningkatkan pelayanan yang berkualitas serta meningkatkan kearifan lokal, menambah dan memperbaiki fasilitas guna menunjang kebutuhan wisatawan dan juga sebagai daya tarik wisata, mengolah kembali peraturan yang ada agar dapat dimaksimalkan dalam implementasinya. Agar lebih maksimal pula objek pungutan pajaknya
Strategi dalam mengurangi dampak dari ancaman eksternal dengan kekuatan yang dimiliki, antara lain menjadikan Mengadakan pelatihan bertaraf internasional guna meminimalisir kemampuan asing dalam menjadi tenaga kerja. Menerapkan ekowisata agar pembangunan tetap berbasis ekologi. Melakukan AMDAL dalam pembangunan untuk menerapkan pembangunan yang sehat dampaknya bagi alam. Mencanangkan pelayanan prima demi memberi kenyamanan
Strategi dalam  mengurangi kelemahan dan ancaman, antara   lain menerapkan basis informasi yang lebih modern dengan e-information yang lebih sering diperbaharui dan mengadakan acara-acara yang menganduk unsur hiburan tapi mengedukasi atau memiliki dasar pendidikan (edutaiment)
Merumuskan peraturan yang mengatur tentang pariwisata, pengelolaan objek wisata beserta elemen-elemennya
Faktor Internal
Kekuatan (Strenght)

Dalam pelaksanaan strategi peningkatan PAD sulawesi tenggara melalui sektor pariwisata, harus memiliki dua tipe pendekatan strategi yang diterapkan yaitu melalui strategi intensifikasi dan ekstensifikasi. Hal ini dimaksudkan agar strategi dapat terimplementasi secara luas dan merata dengan sasaran yang tepat yaitu pelaku usaha wisata, masyarakat, dan elemen lainnya sesuai dengan tujuannya. Hal ini diperkuat oleh Robinson Jr., (2003 : 56) yang mendefinisikan strategi sebagai seperangkat keputusan dan tindakan yang menghasilkan formulasi dan implementasi dari rencana yang didesain untuk mencapai tujuan.
Dalam tindakan yang menghasilkan strategi tentu hal tersebut didahului oleh dimilikinya elemen penunjang yang kuat. Begitu juga Sulawesi Tenggara, daerah yang juga mencanangkan diri untuk menjadi daerah wisata ini memiliki beberapa kekuatan dalam bidang pariwisata. 
Dapat diketahui bahwa dalam pelaksanaan strategi  hal ini diperkuat dengan kekuatan itu terdapat pada lokasi ibu kota Sulawesi Tenggara yaitu kota Kendari yang strategis sebagai pintu gerbang daerah-daerah sulawesi tenggara. Kota Kendari juga ditunjang oleh bandara yang mendukung penerbangan domestik. Selain itu kota Kendari ini juga didukung dengan banyaknya restauran, hotel dan area hiburan. Tentu ini menjadi nilai tambah bagi dunia pariwisata Sulawesi Tenggara dalam menangani peluang dan ancaman.
Hal ini juga didukung oleh pernyataan  Udan (2005:118) yang mengatakan bahwa Kekuatan (Strenght) adalah situasi internal organisasi yang berupa kompentesi/kapabilitas/sumberdaya yang dimiliki organisasi yang dapat digunakan untuk menangani peluang dan ancaman.
Kelemahan (Weakness)
Kelemahan dari strategi yang diterapkan Sulawesi Tenggara yang menghambat implementasi peningkatan PAD dari sektor pariwisata adalah masih kurangnya dioptimalkan usaha hiburan dan reklame dalam menunjang peningkatan PAD dan penghasilan dari pajak ini masih dianggap sebagai penunjang atau pelengkap. Sulawesi Tenggara juga masih lemah dalam mengelola SDM yang berkualitas. Dan sarana dan prasarana wisata seperti aksesbilitas, akomodasi dan penunjang lainnya masih harus dibenahi.
Hal tersebut sangat di sayangkan mengingat Sulawesi Tenggara memiliki sejumlah fasilitas. Namun dengan diketahuinya kelemahan tersebut dapat membantu mencari tahu kompetensi peluang dan ancaman yang akan ditimbulkan hal ini sesuai dengan pernyataan Udan (2005 :118) yaitu kelemahan (Weakness) adalah situasi internal organisasi yang berupa kompentesi/kapabilitas/sumberdaya yang dimiliki organisasi yang dapat digunakan untuk menangani kesempatan dan ancaman

Faktor Eksternal
Peluang (Opportunity)
Dari beberapa artikel yang saya baca di temukan beberapa peluang-peluang yang dimungkinkan dapat di aplikasikan di Sulawesi Tenggara. Melihat telah diketahuinya kekuatan dan kelemahan dari strategi peningkatan PAD Sulawesi Tenggara melalui sektor pariwisata. Dan seperti yang kita lihat di Sulawesi Tenggara peluang yang besar pengaruhnya dalam usaha meningkatkan PAD Sulawesi Tenggara seperti dengan terwujudnya Sulawesi Tenggara sebagai daerah wisata, menjadi pusat penelitian hutan tropis dan mangrove serta terwujudnya Sulawesi Tenggara sebagai pusat informasi yang mengakomodir objek wisata yang ada di Sulawesi Tenggara. 
Dengan dikondisikannya sumberdaya yang memiliki peluang memberikan peningkatan pendapatan asli daerah provinsi Sulawesi Tenggara guna menunjang kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut sejalan dengan pernyatan Udan (2005:118) yang mengatakan bahwa peluang (Opportunity) adalah situasi eksternal organisasi yang berpotensi menguntungkan. Organisasi-organisasi yang berada dalam suatu industri yang sama secara umum akan merasa diuntungkan bila dihadapkan pada kondisi eksternal tersebut.
Ancaman (Threat)
Dengan diketahuinya peluang dalam suatu strategi tentu hal tersebut juga dapat menimbulkan ancaman atau dampak negatif dari peluang tersebut. Dari beberapa artikel tentang potensi Sulawesi Tenggara ditemukan dampak negatif atau ancaman yang dapat terjadi jika peluang dalam strategi peningkatan PAD Sulawesi Tenggara melalui sektor pariwisata dikondisikan. Adapun ancaman-ancaman yang dapat terjadi menurut pandangan saya adalah ancaman akan adanya bandara baru di kota kabupaten lain yang berpotensi mengurangi jumlah penerbangan melalui ibu kota Sulawesi Tenggara. 
Dan jika hal ini terjadi tentu akan ada kesulitan-kesulitan dalam strategi peningkatan PAD kota melalui pajak daerah sektor pariwisata yang akan meminimkan keuntungan bahkan merugikan. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan Udan (2005 :118) yang mengatakan Ancaman (Threat) adalah situasi eksternal organisasi yang berpotensi menimbulkan kesulitan. Organisasi-organisasi yang berada dalam satu industri yang sama secara umum akan merasa dirugikan/dipersulit/terancam bila dihadapkan pada kondisi eksternal.
2.2 Strategi promosi pariwisata yang dilakukan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah(PAD) melalui wisata
Sulawesi Tenggara memiliki potensi wisata yang luar biasa. Bahkan jika dikelola maksimal bisa mendunia. Hanya saja, potensi itu tidak ditopang dengan promosi dan sarana penunjang objek-objek wisata yang mumpuni.Demi menggenjot promosi dan infrastruktur itu, Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara menggelar sosialisasi Branding Pesona Indonesia.
Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara, dalam pertemuannya menghadirkan pemerintah, akademisi, pers dan ekonomi kreatif serta komunitas pemerhati wisata itu bertujuan menyamakan persepsi tentang strategi menjual destinasi wisata di Sulawesi Tenggara. Dimana pemerintah Sulawesi Tenggara harus menciptakan kebijakan baru yang benar-benar bisa menggenjot pariwisata yang ada di Sulawesi Tenggara.
Banyak objek wisata di Sultra yang belum dijamah dan dilengkapi dengan infrastruktur penunjang. Saat ini Pemprov Sultra dan kabupaten intens berkoordinasi guna membangun aset wisata di daerah masing-masing. Sementara Pemprov akan mendukung dalam bentuk lobi-lobi anggaran dan promosi itu. Dimana saat ini Pemprov sudah kerja sama dengan ASITA (Association of the Indonesia Tours adan Travel Agencies) untuk mengangkat potensi wisata Sulawesi Tenggara. Kemudian juga dengan hotel-hotel di Sulawesi Tenggara.
Destinasi Kepariwisataan di Sulawesi Tenggara terus mendapat perhatian serius oleh pemerintah daerah dan pusat untuk dikembangkan sebagai wisata nasional. Potensi wisata yang cukup menjanjikan tersebut, Sultra masuk 10 besar yang menjadi skala Prioritas Pemerintah Pusat untuk dikembangkan menjadi wisata nasional.
potensi wisata yang ada di 17 Kabupaten Kota di Sultra, bukan saja dapat meningkatkan Pendapatan Asli  daerah bagi pemerintah kabupaten, tetapi juga peningkatan kesejahteraan mayarakat. Untuk itu Pemerintah Provinsi dan Kabupaten terus mendorong agar potensi kepariwisaan yang ada di Sultra terus ditingkatkan dan dikembangkan, termasuk mendorong pengalokasian anggaran melalui APBD dan APBN. “Potensi Wisata di Sultra masuk dam 10 skala prioritas yang dicanangkan untuk pengembangannya oleh pemerintah Pusat.
Dalam PP 50 tahun 2011, rencana induk pengembangan pariwisata, Sultra dibagi menjadi empat KPPN yang meliputi KPPN Kendari dan sekitarnya, Baubau, Wakatobi dan Konsel. Disebutkannya, khusus untuk di KPPN Kota Kendari dan sekitarnya sudah dalam pembangunan, salah satunya adalah penataan kawasan teluk Kendari dan pulau Bokori.Sedangkan untuk di Kabupaten Konsel dan sekitarnya yakni pulau hari dan Pulau Towea yang ada di Kabupaten Muna.
Pembangunan pariwisata khususnya infrastruktur menuju destinasi tidak bisa dilakukan hanya satu sektor saja, sehingga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Olehnya itu, para kepala daerah di Sultra harus berani berkomitmen untuk peningkatan sektor pariwisata di daerah masing masing.
Adapun obyek-obyek wisata daerah yang tengah kami kembangkan yakni Napabale, Towea dan pulau Lima. Sedangkan dibidang budaya dan tradisi ada perkelahian kuda dan festival layang-layang atau kaghati.
2.3 Faktor-faktor  yang  berperan  dalam  pengembangan industri pariwisata dalam meningkatkan pendapatan asli daerah
Upaya pengembangan industri panriwisata daerah-daerah di Sulawesi Tenggara terutama dalam menghadapi otonomi daerah berkaitan erat dengan berbagai faktor. Oleh karena itu perlu dipahami faktor-faktor yang secara faktual berperan dalam pengembangan industi pariwisata khususnya di daerah-daerah, yaitu:
Kualitas Sumber Daya Manusia
Salah satu kunci sukses pariwisata di Indonesia khususnya Sulawesi Tenggara adalah human resources development diberbagai subsistem pariwisata tersebut. Ini menunjukkan bahwa somber daya manusia yang berkualitas memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan industri pariwisata terutama ketika pemerintah Sultra mulai menerapkan kebijakan otonomi daerah.
Profesionalisme sumber daya manusia merupakan suatu tuntutan dalam menghadapi persaingan global dimana sumber daya manusia yang dibutuhkan adalah sumber daya manusia yang berkualitas dalam  mempunyai gagasan, inovasi dan etos kerja profesional. Tentu tidal mudah untul memperoleh tenaga-tenaga pro fesional di bidang pariwisata namun paling tidal harus ada upaya-upaya untuk meningkatkan keahlian dan ketrampilan tenaga kepariwisataan, sehingga pada akhirnya peningkatan kualitas sumber daya manusia terutama di daerah-daerah tujuan wisata berpengaruh positif pada perkembangan industri pariwisata daerah.
Promosi Kepariwisataan
Upaya-upaya pengenalan potensi-potensi budaya dan alam di daerah-daerah Sulawesi Tenggara dilakukan dengan jalan melakukan promosi kepariwisataan. Pada saat ini, di mana perkembangan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi demikian pesat maka diperkirakan akan terjadi persaingan di pasar global khususnya persaingan di bidang industri pariwisata. Oleh karenanya promosi kepariwisataan merupakan suatu strategi jim yang harus dilakukan secara berkesinambungan baik di tingkat internasional maupun regional.
Sehubungan dengan kebijakan pemerintah Indonesia mengenai penyelenggaraan otonomi daerah, maka masing-masing daerah diharapkan mampu menarik pars wisatawan baik mancanegara maupun domestik untuk berkunjung ke daerah tujuan wisata yang ada di Indonesia dengan jalan semakin meningkatkan promosi kepariwisataannya.
Sarana dan Prasarana Kepariwisataan
Motivasi yang mendorong orang untuk mengadakan perjalanan akan menimbulkan petmintaan-permintaan yang sama mengenai prasarana dan sarana kepariwisataan seperti jaringan telekomunikasi, akomodasi dan lain sebagainya. Dalam hal ini kesiapan sarana dan prasarana kepariwisataan merupakan salah satu faktor penentu berhasilnya pengembangan industri pariwisata daerah. Terlebih ketika program otonomi daerah diterapkan, maka masing-masing daerah dituntut untuk lebih memberikan perhatiannya pada penyediaan sarana prasarana kepariwisataan yang memadai dan paling tidak sesuai dengan standar intemasional.
Pengusahaan obyek dan daya tarik wisata meliputi kegiatan membangun dan mengelola obyek dan daya tarik wisata beserta prasarana dan sarana yang diperlukan. Dengan demikian perlu adanya pembangunan dan pengelolaan sarana prasarana di daerah-daerah tujuan wisata untuk mendukung penyelenggaraan pariwisata. 
Sarana prasarana tempat merupakan unsur pokok dalam mendalami kegiatan industri pariwisata. Apabila pembenahan dan pengelolaan sarana prasarana kepariwisataan ditelantarkan akan berakibat pada tidak tercapainya dampak positif industri pariwisata dalam peningkatan PAD, penciptaan lapangan kerja dan sebagai pendorong pembangunan daerah.
Ketiga faktor di atas merupakan faktor kritis. yang perlu mendapat perhatian serius dalam rangka pengembangan industri pariwisata daerah. Tujuan pengembangan industri pariwisata daerah dapat tercapai apabila ketiga faktor tersebut dilaksanakan secara terpadu dan berkesinambungan. Hanya saja perlu disadari bahwa pengembangan pariwisata sebagai industri memerlukan biaya yang tidak sedikit. Terlebih dengan mulai diterapkannya otonomi daerah, maka pola perencanaan yang terpadu mutlak diperlukan sebelum mulai dengan pengembangan industripariwisam.
Pada dasamya, perencanaan bermaksud memberi batasan tentang tujuan yang hendak dicapai dan menentukan tujuan yang dimaksudkan. Dengan demikian pengembangan industri pariwisata suatu daerah perlu mempertimbangkan segala macam aspek. Ini disebabkan industri pariwisata merupakan industri jasa yang tidak dapat berdiri sendiri, akan tempi selalu berkaitan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan berbagai sektor lain. Jadi maju mundumya industri pariwisata tidak hanya tergantung path sektor pariwisata saja.



BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Dari uraian pembahasan di atas dapat di simpulkan bahwa:
Strategi untuk meningkatkan PAD yang digagaskan oleh Fandeli (2000), yaitu: Strategi Pengembangan Pariwisata, Strategi Pengembangan Produk Wisata, Strategi Pemasaran dan Promosi Pariwisata, Strategi Penegmbangan Aksebilitas, Strategi Pengembangan prasarana untuk menunjang kegiatan pariwisata dan Strategi Pengembangan Usaha.
Demi menggenjot promosi dan infrastruktur itu, Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara menggelar sosialisasi Branding Pesona Indonesia.
Dalam pengembangan industri pariwisata ada beberapa faktor yang perlu dipahami diantaranya kualitas sumber daya manusia, promosi kepariwisataan dan sarana dan prasarana

3.2 SARAN
Dalam mengeksplorasi dan mengembangan potensi obyek wisata di Sulawesi Tenggara hendaknya memperhatikan faktor fisik supaya tidak merusak keseimbangan alam serta dalam pengembangan potensi obyek wisata seoptimal mungkin sehingga dapat mendukung pendapatan asli daerah Sulawesi Tenggara
pelayanan kepada wisatawan sehingga dapat meningkatkan kualitas potensi daya tarik wisata, sehingga banyak wisatawan yang tertarik untuk berkunjung ke daerah wisata Sulawesi Tenggara.


Warning!
Buat para readers tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas kuliah komunikasi pariwisataku, dan dikutip dari berbagai sumber. semoga bermanfaat buat para readers😀


Selasa, 18 September 2018

Konsep Komunikasi Pariwisata

A. DEFINISI KOMUNIKASI
       Istilah ‘komunikasi’ (communication) berasal dari bahasa Latin ‘communicatus’ yang artinya berbagi atau menjadi milik bersama. Dengan demikian komunikasi menunjuk pada suatu upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan
                Secara harfiah, komunikasi berasal dari Bahasa Latin: “Communis” yang berarti keadaan yang biasa, membagi. Dengan kata lain, komunikasi adalah sutu proses di dalam upaya membangun saling pengertian. Dalam suatu organisasi biasanya selalu menekankan bagaimana pentingnya sebuah komunikasi antar anggota organisasi untuk menekan segala kemungkinan kesalahpahaman yang bisa saja terjadi.
        Berikut merupakan definisi komunikasi menurut beberapa ahli :
Effendi (1995)
Komunikasi itu sendiri bisa diartikan sebagai suatu proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberikan atau untuk mengubah sikap, pendapat atu prilaku baik secara langsung (lisan) maupun tak langsung (tulisan).
Hoyland, Janis dan Kelley (1953)
Komunikasi adalah suatu proses melalui mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk prilaku orang lain (khalayak).
Barelson dan Steiner (1964)
Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian dan lain-lain melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka dan lain-lain.
Louis Forsdale (1981)
Komunikasi adalah suatu proses memberikan signal menurut aturan tertentu sehingga dengan cara ini suatu sistem dapat didirikan, dipelihara, dan diubah.
Brent D. Ruben (1988)
Komunikasi dikatakan sebagai suatu proses yaitu suatuaktivitas yang mempunyai beberapa tahap yang terpisah satu sama lain tetapi berhubungan.
William J. Seller (1988)
Komunikasi adalah proses dengan nama simbol verbal dan nonverbal dikirimkan, diterima, dan diberi arti.
Palo Alto
Ketika dua orang sedang bersama, mereka berkomunikasi secara terus menerus karena mereka tidak dapat berperilaku.
Himstreet & Baty
Komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi antar individu melalui suatu sistem yang biasa (lazim), baik dengan simbol-simbol, sinyak - sinyal, maupun perilaku atau tindakan.
Bovee
Komunikasi adalah suatu proses pengiriman dan penerimaan pesan.
Harold D. Lasswell
Komunikasi adalah proses yang menggambarkan siapa mengatakn apa dengan cara apa, kepada siapa dengan efek apa.
Theodorson
Komunikasi adalah penyebaran informasi, ide-ide sebagai sikap atau emosi dari seseorang kepada orang lain terutama melalui simbol-simbol.
B. UNSUR-UNSUR KOMUNIKASI
1. Sumber
     Semua peristiwa komunikasi akan melinatkan sumber sebagai pembuat atau pengirim ineormasi. Dalam komunikasi antarmanusia, sumber bisa terdiri dari satu orang, tetapi bisa juga dalam bentuk kelompok misalnya partai, organisasi atau lembaga. Sumber sering disebut pengirim, komunikator atau dalam bahasa Inggrisnya disebut source, sender, atau encoder.
2. Pesan
   Pesan yang dimaksud dalam proses komunikasi adalah sesuatu yang disampaikan pengirim kepada penerima. Pesan dapat disampaikan dengan cara tatap muka atau melalui media komunikasi. Isinya bisa berupa ilmu pengetahuan, hiburan, informasi, nasihat atau propaganda. Dalam bahasa inggris pesan biasanya diterjemahkan dengan kata massage, content atau informasi (Hafied Cangara, 2008;22-24).
3. Media
            Media adalah alat sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak. Ada beberapa pakar psikologi memandang bahwa dalam komunikasi antarmanusia, media yang paling dominan dalam berkomunikasi adalah pancaindra manusia seperti mata dan teliga. Pesan-pesan yang diterima pancaindra selanjutnya diproses dalam pikiran manusia untuk mengontrol dan menentukan sikapnya terhadap sesuatu, sebelum dinyatakan dalam tindakan. Akan tetapi, media yang dimaksud dalam buku ini, ialah media yang digolongan atas empat macam, yakni: Media antarpribadi, untuk hubungan perorang (antarpribadi) media yang tepat digunakan ialah kurir /utusan, surat, dan telpon. Media kelompok, Dalam aktivitasa komunikasi yang melibatkan khlayak lebih dari 15 orang, maka media komunikasi yang banyak digunakan adalah media kelompok, misalnya, rapat, seminar, dan konperensi. Rapat biasanya digunakan untuk membicarakan hal-hal penting yang dihadapi oleh suatu organisasi. Seminar adalah media komunikasi kelompok yang biasa dihadiri 150 orang. Konferensi adalah media komunikasi yang dihadiri oleh anggota dan pengurus dari organisasi tertentu. Ada juga orang dari luar organisasi, tapi biasanya dalam status peninjau. Media publik, kalau khalayak lebih dari 200-an orang, maka media komunikasi yang digunakan biasanya disebut media publik. Misalnya rapat akbar, rapat raksasa dan semacamnya. Media massa, jika khalayak tersebar tanpa diketahui di mana mereka berada, maka biasanya digunakan media massa. Media massa adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber kepada khalayak (penerima) dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis seperti surat kabar, film, radio, dan televisi (Hafied Cangara, 2008;123-126).
4. Penerima
      Penerima adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh sumber. Penerima bisa terdiri satu orang atau lebih, bisa dalam bentuk kelempok, partai atau negara. Penerima biasa disebut dengan berbagai macam istilah, seperti khalayak, sasaran, komunikan, atau dalam bahasa Inggris disebut audience atau receiver. Dalam proses komunikasi telah dipahami bahwa keberadaan penerima adalah akibat karena adanya sumber. Tidak adanya penerima jika tidak ada sumber. Penerima adalah elemen penting dalam proses komunikasi, karena dialah yang menjadi sasaran dari komunikasi. Jika suatu pesan tidak diterima oleh penerima, akan menimbulkan berbagai macam masalah yang sering kali menuntut perubahan, apakah pada sumber, pesan, atau saluran.
5. Pengaruh atau efek
       Pengaruh atau efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan. Pengaruh ini biisa terjadi pada pengetahuan, sikap dan tingkah laku seseorang. Oleh karena itu, pengaruh bisa juga diartikan perubahan atau pengetahuan, sikap, dan tindakan seseorang sebagai akibat penerimaan pesan (Hafied Cangara, 2008;22-27).

C. TUJUAN KOMUNIKASI
    Hewitt (1981), menjabarkan tujuan penggunaan proses komunikasi secara spesifik sebagai berikut:
1. Mempelajari atau mengajarkan sesuatu
2. Mempengaruhi perilaku seseorang
3. Mengungkapkan perasaan
4. Menjelaskan perilaku sendiri atau perilaku          orang lain
5. Berhubungan dengan orang lain
6. Menyelesaian sebuah masalah
7. Mencapai sebuah tujuan
8. Menurunkan ketegangan dan menyelesaian          konflik
9. Menstimulasi minat pada diri sendiri atau            orang lain

D. PROSES KOMUNIKASI
Komunikasi merupakan suatu proses yang mempunyai komponen dasar sebagai berikut
a. Pengirim Pesan
b. Penerima Pesan
c. Pesan
Semua fungsi manajer melibatkan proses komunikasi. Proses komunikasi dapat dilihat pada skema dibawah ini :
1. Pengirim pesan (sender) dan isi pesan/materi
    Pengirim pesan adalah orang yang mempunyai ide untuk disampaikan kepada seseorang dengan harapan dapat dipahami oleh orang yang menerima pesan sesuai dengan yang dimaksudkannya. Pesan adalah informasi yang akan disampaikan atau diekspresikan oleh pengirim pesan. Pesan dapat verbal atau non verbal dan pesan akan efektif bila diorganisir secara baik dan jelas.
Materi pesan dapat berupa :
a. Informasi
b. Ajakan
c. Rencana kerja
d. Pertanyaan dan sebagainya
2. Simbol/ isyarat
               Pada tahap ini pengirim pesan membuat kode atau simbol sehingga pesannya dapat dipahami oleh orang lain. Biasanya seorang manajer menyampaikan pesan dalam bentuk kata-kata, gerakan anggota badan, (tangan, kepala, mata dan bagian muka lainnya). Tujuan penyampaian pesan adalah untuk mengajak, membujuk, mengubah sikap, perilaku atau menunjukkan arah tertentu.
3. Media/penghubung
      Adalah alat untuk penyampaian pesan seperti ; TV, radio surat kabar, papan pengumuman, telepon dan lainnya. Pemilihan media ini dapat dipengaruhi oleh isi pesan yang akan disampaikan, jumlah penerima pesan, situasi dsb.
4. Mengartikan kode/isyarat
     Setelah pesan diterima melalui indera (telinga, mata dan seterusnya) maka si penerima pesan harus dapat mengartikan simbul/kode dari pesan tersebut, sehingga dapat dimengerti /dipahaminya.
5. Penerima pesan
       Penerima pesan adalah orang yang dapat memahami pesan dari sipengirim meskipun dalam bentuk code/isyarat tanpa mengurangi arti pesan yang dimaksud oleh pengirim.
6. Balikan (feedback)
          Balikan adalah isyarat atau tanggapan yang berisi kesan dari penerima pesan dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Tanpa balikan seorang pengirim pesan tidak akan tahu dampak pesannya terhadap sipenerima pesan Hal ini penting bagi manajer atau pengirim pesan untuk mengetahui apakah pesan sudah diterima dengan pemahaman yang benar dan tepat. Balikan dapat disampaikan oleh penerima pesan atau orang lain yang bukan penerima pesan. Balikan yang disampaikan oleh penerima pesan pada umumnya merupakan balikan langsung yang mengandung pemahaman atas pesan tersebut dan sekaligus merupakan apakah pesan itu akan dilaksanakan atau tidak.
       Balikan yang diberikan oleh orang lain didapat dari pengamatan pemberi balikan terhadap perilaku maupun ucapan penerima pesan. Pemberi balikan menggambarkan perilaku penerima pesan sebagai reaksi dari pesan yang diterimanya. Balikan bermanfaat untuk memberikan informasi, saran yang dapat menjadi bahan pertimbangan dan membantu untuk menumbuhkan kepercayaan serta keterbukaan diantara komunikan, juga balikan dapat memperjelas persepsi.
7. Gangguan
           Gangguan bukan merupakan bagian dari proses komunikasi akan tetapi mempunyai pengaruh dalam proses komunikasi, karena pada setiap situasi hampir selalu ada hal yang mengganggu kita. Gangguan adalah hal yang merintangi atau menghambat komunikasi sehingga penerima salah menafsirkan pesan yang diterimanya.

E. HAMBATAN KOMUNIKASI
1. Hambatan dari Proses Komunikasi
a. Hambatan dari pengirim pesan, misalnya                      pesan yang akan disampaikan belum jelas bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi oleh perasaan atau situasi emosional.
b. Hambatan dalam penyandian/simbol
       Hal ini dapat terjadi karena bahasa yang dipergunakan tidak jelas sehingga mempunyai arti lebih dari satu, simbol yang dipergunakan antara si pengirim dan penerima tidak sama atau bahasa yang dipergunakan terlalu sulit.
c. Hambatan media
   adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan media komunikasi, misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tidak dapat mendengarkan pesan.
d. Hambatan dalam bahasa sandi. Hambatan terjadi dalam menafsirkan sandi oleh si penerima
e. Hambatan dari penerima pesan, misalnya kurangnya perhatian pada saat menerima /mendengarkan pesan, sikap prasangka tanggapan yang keliru dan tidak mencari informasi lebih lanjut.
f. Hambatan dalam memberikan balikan. Balikan yang diberikan tidak menggambarkan apa adanya akan tetapi memberikan interpretatif, tidak tepat waktu atau tidak jelas dan sebagainya.


2. Hambatan Fisik
Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang efektif, cuaca gangguan alat komunikasi, dan lain lain, misalnya: gangguan kesehatan, gangguan alat komunikasi dan sebagainya.
3. Hambatan Semantik.
Kata-kata yang dipergunakan dalam komunikasi kadang-kadang mempunyai arti mendua yang berbeda, tidak jelas atau berbelit-belit antara pemberi pesan dan penerima
4. Hambatan Psikologis
Hambatan psikologis dan sosial kadang-kadang mengganggu komunikasi, misalnya; perbedaan nilai-nilai serta harapan yang berbeda antara pengirim dan penerima pesan.

F. MODEL - MODEL KOMUNIKASI
a. Model HAROLD LASSWELL
Mengemukakan tentang bentuk komunikasi yang mengandung unsur-unsur :
1. Who (Siapa), Say What (Mengatakan Apa), In Which Channel (Menggunakan saluran apa), To Whom (Untuk siapa), With What Effect (Dengan efek apa) ini dikenal model matematika komunikasi untuk menjawab pertanyaan "apa yang terjadi pada informasi sejak saat dikirimkan hingga diterima?"
Mengasumsikan bahwa dalam proses komunikasi, pesan yang dikirimkan = pesan yang diterima.
b. Model komunikasi Shannon-Weaver
Digambarkan sebagai sebuah proses linier, searah, menyoroti problem penyampaian pesan berdasarkan tingkat kecermatannya. Model ini terdiri dari lima fungsi yang ditampilkan dan terdapat sebuah faktor disfungsi yaitu gangguan (noise).
c. Model Berlo
Terdiri dari empat elemen, yaitu sumber (source/S), pesan (message/M), saluran (channel/C) dan penerima (receiver/R). Dari keempat komponen inilah model Berlo juga sering disebut sebagai model SMCR.
Keunikan Berlo adalah dalam mendefinisikan saluran komunikasi dengan kelima panca indera manusia sebagai saluran komunikasi. Kemudian, ia juga memperluas elemen sumber dan penerima. Berlo meletakkan komponen-komponen seperti ketrampilan komunikasi (communication skills), sikap (attitude), knowledge (pengetahuan), sistem sosial (social system) dan budaya (culture).

d. Model Schramm
Menekankan pada perilaku para pelaku utama dalam proses komunikasi.Pada model Schramm, tidak membedakan antara fungsi pada komunikator dan receiver. Menggambarkan bagian-bagian itu sebagai sesuatu yang sama, menganggap keduanya memiliki fungsi-fungsi yang sama, yaitu fungsi encoding, decoding dan interpreting. Fungsi encoding sama dengan fungsi transmisi, sedangkan fungsi decoding sama dengan fungsi receiving.
Pendekatan dengan model sirkuler ini berbeda dengan model komunikasi linier yang tradisional, yang secara jelas memisahkan peran pengirim dan penerima. Sebaliknya, pada model ini pengirim dan penerima dapat bergantian memainkan peran.
e. Model konvergen
Pengertian bersama disebut sebagai hasil akhir dalam proses komunikasi. Wujud lingkaran juga mengandung pengertian bahwa betapapun banyaknya informasi yang saling digunakan bersama oleh para peserta (dalam bentuk mengutarakan pendapat masing-masing), namun mereka hanya dapat sampai saling berhampiran saja. Mereka tidak akan pernah sepenuhnya memahami makna pihak lainnya. Bila ingin memahami pihak lain secara sempurna, diperlukan pengalaman hidup yang mutlak sama. Dan hal ini tentu saja mustahil.

G. PENGERTIAN KOMUNIKASI PARIWISATA
Komunikasi Pariwisata adalah proses penyampaian informasi baik secara langsung (Direct) maupun secara tidak langsung (Indirect) dari komunikator kepada komunikan dengan menekankan informasi atau pesan pariwisata kepada komunikan.
Elemen Komunikasi Pariwisata:
- Komunikator, orang atau lembaga yang memberikan informasi berisikan tentang pariwisata.
- Pesan, inti dari komunikasi pariwisata, dimana pesan yang disalurkan berkaitan dengan pariwisata.
- Komunikan, orang atau lembaga yang menerima informasi berisikan tentang pariwisata.

H. KONSEP KOMUNIKASI PARIWISATA
Menghidupkan berbagai pariwisata adalah kegiatan dinamis yang melibatkan banyak manusia serta bidang usaha.
Konsep dan definisi tentang pariwisata, wisatawan serta klasifikasi kepariwisataan, menurut Leiper dalam Cooper et.al (1998:5) terdapat tiga elemen utama yang menjadikan kegiatan tersebut bisa terjadi. Kegiatan wisata terdiri atas beberapa komponen utama:
a. Wisatawan
      Ia adalah aktor dalam kegiatan wisata. Berwisata menjadi sebuah pengalaman manusia untuk menikmati, mengantisipasi dan mengingatkan masa-masa di dalam kehidupan.
b. Elemen Geografi
       Pergerakan wisatawan berlangsung pada tiga area geografi seperti berikut ini:
- Daerah Asal Wisatawan (DAW)
Daerah tempat asal wisatawan berada, tempat ketika ia melakukan aktivitas keseharian, seperti bekerja, belajar, tidur dan kebutuhan dasar lainnya. Rutinitas itu sebagai pendorong untuk memotivasi seseorang berwisata. Dari DAW, seseorang dapat mencari informasi tentang objek dan daya tarik wisata yang diminati membuat pemesanan dan berangkat menuju daerah tujuan.
- Daerah Transit (DT)
Tidak seluruh wisatawan harus berhenti di daerah itu. namun, seluruh wisatawan pasti akan melalui daerah tersebut sehingga peranan DT pun penting. Seringkali terjadi, perjalanan wisata berakhir di daerah transit, bukan di daerah tujuan. Hal inilaj yang membuat Negara-negara seprti Singapura dan Hong Kong berupaya menjadikan daerahnya multi fungsi, yakni sebagai Daerah Transit dan Daerah Tujuan Wisata.
- Daerah Tujuan Wisata (DTW)
Daerah ini sering dikatakan sebagai Sharp end (ujung tombak) pariwisata. Di DTW ini dampak pariwisata sangat dirasakan sehingga dibutuhkan perencanaan dan strategi manajemen yang tepat. Untuk menarik wisatawan. DTW merupakan pemacu perjalanan dari DAW. DTW juga merupakan raison detre atau alasan yang berbeda dengan rutinitas wisatawan.

I. INDUSTRI PARIWISATA
              Elemen ketiga dalam sistem pariwisata adalah Industri Pariwisata.industri yang menyediakan jasa, daya tarik, dan sarana wisata. Industri yang merupakan unit-unit usaha atau bisnis di dalam kepariwisataan dan tersebar di ketiga area geografi tersebut, sebagai contoh : Biro perjalanan wisata bisa ditemukan di daerah asal wisatawan maupun di daerah transit, dan akomodasi bisa ditemukan di daerah tujuan wisata.
       Menurut definisi yang luas pariwisata adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, bersifat sementara, dilakukan perorangan maupun kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dan kebahagiaan degan lingkungan hidup dalam dimensi sosial, budaya, alam dan ilmu. Suatu perjalanan dianggap sebagai perjalanan wisata bila memenuhi tiga persyaratan yang diperlukan, yaitu:
- Harus bersifat sementara
- Harus bersifat suka rela (voluntary) dalam arti    tidak terjadi karena dipaksa
- Tidak bekerja yang sifatnya menghasilkan             upah ataupun bayaran.
     Dalam kesimpulannya pariwisata adalah keseluruhan fenomena (gejala) dan hubungan-hubungan yang ditimbulkan oleh perjalanan dan persinggahan manusia di luar tempat tinggalnya. Dengan maksud bukan untuk tinggal menetap dan tidak berkaitan dengan pekerjaan-pekerjaan yang menghasilkan upah.

J. KAMPANYE DAN PROMOSI PARIWISATA
a. Kampanye
J.Stanton mendefinisikan kampanye adalah suatu rangkaian usaha promosi yang terkordinir tentang satu tema atau ide dan direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah di tentukan. Kita dapat mengatakan sebagai kampanye promosi apabila kampanye tersebut diterapkan di bidang bisnis, dan ini dapat dibagi ke dalam komponen-komponen, periklanan, personal selling dan promosi penjualan.
b. Promosi
Promosi dipandang sebagai arus informasi atau promosi satu arah yang dibuat untuk mengarahkan seseorang atau organisasi kepada tindakan yang menciptakan pertukaran dalam pemasaran. Jadi promosi merupakan salah satu aspek yang penting dalam manajemen pemasaran, dan sering dikatakan sebagai “proses berlanjut”, ini disebabkan karena promosi dapat menimbulkan rangkaian kegiatan selanjutnya dari perusahaan.
Alat promosi yang banyak digunakan:
- Advertising
- Sales Support
- Public Relation

K. STRATEGI KOMUNIKASI PARIWISATA
              Bila berbicara tentang strategi, maka hal pertama yang harus anda tetapkan adalah tujuan. Demikian juga dengan strategi komunikasi pariwisata, hal ini dilakukan untuk mencapai tujuan dari komunikator kepada komunikan. Meskipun sudah tidak bisa ditutupi lagi bahwa tujuan dari industri pariwisata adalah mendapatkan profit, namun masih banyak perilaku industri pariwisata tidak mampu mengelola komunikasi secara baik.
       Strategi utama komunikasi pariwisata adalah ajakan (persuasi) karena pada prinsip dasar pariwisata menekankan pada produk berupa goods and services, dimana services merupakan komponen yang sangat penting dan berkaitan lagsung terhadap komunikasi. Persuasi, kerap digunakan oleh komunikator dalam aktivitas seperti Marketing, Corporate Relationship, Publication, dan lain-lain.
a. Hotel Industry
Industri perhotelan merupakan industri pariwisata terbesar, hal ini berkaitan erat dengan jumlah management dan hotelier yang jauh lebih banyak dari industri pariwisata lainnya. Apalagi dengan berkembangnya MICE (Meeting, Intensive, Convertion dan Exhibition) yang dapat dijadikan sebagai lahan komersial bagi industry perhotelan sehingga dibutuhkan SDM yang lebih banyak lagi dari berbagai disiplin ilmu.
Departemen hotel yang berkaitan erat dengan komunikasi pariwisata:
1. Front Office Departement
2. Marketing Departement
3. Public Relations Departement
4. House Keeping Departement
5. Food and Beverage Departement
6. Entertainment Departement

b. Travel Industry
Industri perjalanan adalah lahan paling luas bagi pariwisata, kemampuan komunikasi pelaku travel industri sebenarnya dituntut lebih baik daripada Hotelier meski pada kenyataan berbanding terbalik, kemampuan komunikasi yang baik seolah hanya penting bagi guide (pemandu wisata).

L. HAMBATAN PARIWISATA
a. Kurangnya promosi
b. Sumber Daya Manusia (SDM)
c. Fasilitas infrastruktur
d. Transportasi
e. Layanan imigrasi
f. Pemasaran produk daerah
g. Perilaku penduduk
h. Pengusaha lokal
i. Keterbatasan anggaran.

Komunikasi Pariwisata sebagai Penunjang PAD SULTRA

Komunikasi Pariwisata Sebagai Media Promosi Dalam Penunjang Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tenggara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BE...