Selasa, 04 Desember 2018

Komunikasi Pariwisata sebagai Penunjang PAD SULTRA

Komunikasi Pariwisata Sebagai Media Promosi Dalam Penunjang Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tenggara

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Pelaksanaan pembangunan daerah pada dasarnya merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah dan menserasikan laju pertumbuhan antar daerah di Indonesia. Otonomi yang diberikan kepada daerah Kabupaten dan Kota dilaksanakan dengan memberikan kewenangan yang seluas-luasnya, nyata, dan bertanggung jawab kepada pemerintah daerah secara proporsional. Artinya, pelimpahan tanggung jawab akan diikuti oleh pengaturan pembagian, dan pemanfaatan serta sumber daya nasional yang berkeadilan, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah. Dalam mengurus dan mengatur rumah tangga sendiri, sudah barang tentu daerah memerlukan biaya yang cukup besar guna membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di daerah. Oleh karena itu daerah diberi hak dan wewenang untuk menggali sumber-sumber pendapatan daerahnya sendiri. Sumber-sumber pendapatan asli daerah (PAD) di antaranya: Hasil pajak daerah,  Hasil retribusi daerah, Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan; Dana Perimbangan; dan lain-lain pendapatan daerah yang sah.
Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) merupakan Provinsi pecahan dari Sulawesi Selatan itu telah tumbuh menjadi daerah mandiri yang menyimpan kekayaan alam berlimpah. Kekayaan alam yang tersimpan di provinsi yang beribu kota di Kendari itu antara lain emas dan nikel. Selama delapan tahun terakhir, Sultra mengalami peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). 
Pendapatan Asli Daerah yang selanjutnya disebut PAD adalah potensi sumber penerimaan utama dari APBD. Berdasarkan pada ketentuan bahwa daerah otonom berhak mengatur dan membiayai rumah tangganya sendiri sesuai dengan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah yang menyebutkan bahwa PAD terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain PAD yang sah. Keberhasilan pemerintah daerah dalam upaya membangun ekonomi di wilayahnya tergantung pada kemampuan aparaturnya untuk dapat memobilisasi potensi yang ada pada masyarakatnya melalui optimalisasi peningkatan PAD. 
1.2. RUMUSAN MASALAH

  • Bagaimana strategi peningkatan pendapatan asli daerah(PAD) sulawesi tenggara melalui pariwisata?
  • Strategi promosi pariwisata yang dilakukan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah(PAD) melalui wisata?
  • Faktor-faktor apa yang berperan dalam pengembangan industri pariwisata dalam meningkatkan pendapatan asli daerah(PAD)?



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Strategi  Peningkatan  Pendapatan  Asli  Daerah (PAD) Sulawesi  Tenggara  Melalui Pariwisata
Dalam melakukan perjalanan wisata, seorang wisatawan memerlukan bermacam jasa dan produk wisata yang dibutuhkannya. Berbagai macam jasa dan produk wisata inilah yang disebut dengan komponen pariwisata. Komponen pariwisata ini dapat disediakan oleh pihak pengusaha, masyarakat, atau siapapun yang berminat untuk menyediakan jasa pariwisata, komponen pariwisata meliputi komponen dalam penyediaan destinasi pariwisata dengan komponen yang dimuat di Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan pada pasal 1 ayat 6 yaitu:
  • Objek dan daya tarik wisata
  • Fasilitas umum
  • Angkutan wisata / aksesibilitas
  • Sarana dan prasarana
  • Serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan.
Dengan mengetahui komponen destinasi pariwisata di atas, maka arah pengembangan pembangunan pariwisata bisa terarah dengan baik. Banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh jika pembangunan pariwisata ini terarah dan bisa memancing minat wisatawan untuk berkunjung.
Sasaran yang akan dicapai dalam rangka otonomi daerah seperti yang tertuang dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah dalam pelaksanaan pembangunan dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat harus dapat menggali potensi yang ada di daerah termasuk sektor pariwisatanya.
Strategi untuk meningkatkan PAD yang digagaskan oleh Fandeli (2000), yaitu: Strategi Pengembangan Pariwisata, Strategi Pengembangan Produk Wisata, Strategi Pemasaran dan Promosi Pariwisata, Strategi Penegmbangan Aksebilitas, Strategi Pengembangan prasarana untuk menunjang kegiatan pariwisata dan Strategi Pengembangan Usaha.
Untuk perumusan strategi peningkatan pendapatan asli daerah(PAD) melalui sektor pariwisata dapat dilakukan dengan mengidentifikasi informansi terkait komponen SWOT. yaitu evaluasi terhadap keseluruhan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman menurut Kotler (2008 : 88).
Dari   analisis   SWOT   tersebut   dapat   diperoleh strategi yang akan diusulkan dalam upaya peningkatan pendapatan asli daerah(PAD) sebagai berikut: 
Strategi   menggunakan   kekuatan   internal  dalam   meraih   peluang  yang   ada,   antara   lain   dengan   mewujudkan  meningkatkan pelayanan yang berkualitas serta meningkatkan kearifan lokal, menambah dan memperbaiki fasilitas guna menunjang kebutuhan wisatawan dan juga sebagai daya tarik wisata, mengolah kembali peraturan yang ada agar dapat dimaksimalkan dalam implementasinya. Agar lebih maksimal pula objek pungutan pajaknya
Strategi dalam mengurangi dampak dari ancaman eksternal dengan kekuatan yang dimiliki, antara lain menjadikan Mengadakan pelatihan bertaraf internasional guna meminimalisir kemampuan asing dalam menjadi tenaga kerja. Menerapkan ekowisata agar pembangunan tetap berbasis ekologi. Melakukan AMDAL dalam pembangunan untuk menerapkan pembangunan yang sehat dampaknya bagi alam. Mencanangkan pelayanan prima demi memberi kenyamanan
Strategi dalam  mengurangi kelemahan dan ancaman, antara   lain menerapkan basis informasi yang lebih modern dengan e-information yang lebih sering diperbaharui dan mengadakan acara-acara yang menganduk unsur hiburan tapi mengedukasi atau memiliki dasar pendidikan (edutaiment)
Merumuskan peraturan yang mengatur tentang pariwisata, pengelolaan objek wisata beserta elemen-elemennya
Faktor Internal
Kekuatan (Strenght)

Dalam pelaksanaan strategi peningkatan PAD sulawesi tenggara melalui sektor pariwisata, harus memiliki dua tipe pendekatan strategi yang diterapkan yaitu melalui strategi intensifikasi dan ekstensifikasi. Hal ini dimaksudkan agar strategi dapat terimplementasi secara luas dan merata dengan sasaran yang tepat yaitu pelaku usaha wisata, masyarakat, dan elemen lainnya sesuai dengan tujuannya. Hal ini diperkuat oleh Robinson Jr., (2003 : 56) yang mendefinisikan strategi sebagai seperangkat keputusan dan tindakan yang menghasilkan formulasi dan implementasi dari rencana yang didesain untuk mencapai tujuan.
Dalam tindakan yang menghasilkan strategi tentu hal tersebut didahului oleh dimilikinya elemen penunjang yang kuat. Begitu juga Sulawesi Tenggara, daerah yang juga mencanangkan diri untuk menjadi daerah wisata ini memiliki beberapa kekuatan dalam bidang pariwisata. 
Dapat diketahui bahwa dalam pelaksanaan strategi  hal ini diperkuat dengan kekuatan itu terdapat pada lokasi ibu kota Sulawesi Tenggara yaitu kota Kendari yang strategis sebagai pintu gerbang daerah-daerah sulawesi tenggara. Kota Kendari juga ditunjang oleh bandara yang mendukung penerbangan domestik. Selain itu kota Kendari ini juga didukung dengan banyaknya restauran, hotel dan area hiburan. Tentu ini menjadi nilai tambah bagi dunia pariwisata Sulawesi Tenggara dalam menangani peluang dan ancaman.
Hal ini juga didukung oleh pernyataan  Udan (2005:118) yang mengatakan bahwa Kekuatan (Strenght) adalah situasi internal organisasi yang berupa kompentesi/kapabilitas/sumberdaya yang dimiliki organisasi yang dapat digunakan untuk menangani peluang dan ancaman.
Kelemahan (Weakness)
Kelemahan dari strategi yang diterapkan Sulawesi Tenggara yang menghambat implementasi peningkatan PAD dari sektor pariwisata adalah masih kurangnya dioptimalkan usaha hiburan dan reklame dalam menunjang peningkatan PAD dan penghasilan dari pajak ini masih dianggap sebagai penunjang atau pelengkap. Sulawesi Tenggara juga masih lemah dalam mengelola SDM yang berkualitas. Dan sarana dan prasarana wisata seperti aksesbilitas, akomodasi dan penunjang lainnya masih harus dibenahi.
Hal tersebut sangat di sayangkan mengingat Sulawesi Tenggara memiliki sejumlah fasilitas. Namun dengan diketahuinya kelemahan tersebut dapat membantu mencari tahu kompetensi peluang dan ancaman yang akan ditimbulkan hal ini sesuai dengan pernyataan Udan (2005 :118) yaitu kelemahan (Weakness) adalah situasi internal organisasi yang berupa kompentesi/kapabilitas/sumberdaya yang dimiliki organisasi yang dapat digunakan untuk menangani kesempatan dan ancaman

Faktor Eksternal
Peluang (Opportunity)
Dari beberapa artikel yang saya baca di temukan beberapa peluang-peluang yang dimungkinkan dapat di aplikasikan di Sulawesi Tenggara. Melihat telah diketahuinya kekuatan dan kelemahan dari strategi peningkatan PAD Sulawesi Tenggara melalui sektor pariwisata. Dan seperti yang kita lihat di Sulawesi Tenggara peluang yang besar pengaruhnya dalam usaha meningkatkan PAD Sulawesi Tenggara seperti dengan terwujudnya Sulawesi Tenggara sebagai daerah wisata, menjadi pusat penelitian hutan tropis dan mangrove serta terwujudnya Sulawesi Tenggara sebagai pusat informasi yang mengakomodir objek wisata yang ada di Sulawesi Tenggara. 
Dengan dikondisikannya sumberdaya yang memiliki peluang memberikan peningkatan pendapatan asli daerah provinsi Sulawesi Tenggara guna menunjang kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut sejalan dengan pernyatan Udan (2005:118) yang mengatakan bahwa peluang (Opportunity) adalah situasi eksternal organisasi yang berpotensi menguntungkan. Organisasi-organisasi yang berada dalam suatu industri yang sama secara umum akan merasa diuntungkan bila dihadapkan pada kondisi eksternal tersebut.
Ancaman (Threat)
Dengan diketahuinya peluang dalam suatu strategi tentu hal tersebut juga dapat menimbulkan ancaman atau dampak negatif dari peluang tersebut. Dari beberapa artikel tentang potensi Sulawesi Tenggara ditemukan dampak negatif atau ancaman yang dapat terjadi jika peluang dalam strategi peningkatan PAD Sulawesi Tenggara melalui sektor pariwisata dikondisikan. Adapun ancaman-ancaman yang dapat terjadi menurut pandangan saya adalah ancaman akan adanya bandara baru di kota kabupaten lain yang berpotensi mengurangi jumlah penerbangan melalui ibu kota Sulawesi Tenggara. 
Dan jika hal ini terjadi tentu akan ada kesulitan-kesulitan dalam strategi peningkatan PAD kota melalui pajak daerah sektor pariwisata yang akan meminimkan keuntungan bahkan merugikan. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan Udan (2005 :118) yang mengatakan Ancaman (Threat) adalah situasi eksternal organisasi yang berpotensi menimbulkan kesulitan. Organisasi-organisasi yang berada dalam satu industri yang sama secara umum akan merasa dirugikan/dipersulit/terancam bila dihadapkan pada kondisi eksternal.
2.2 Strategi promosi pariwisata yang dilakukan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah(PAD) melalui wisata
Sulawesi Tenggara memiliki potensi wisata yang luar biasa. Bahkan jika dikelola maksimal bisa mendunia. Hanya saja, potensi itu tidak ditopang dengan promosi dan sarana penunjang objek-objek wisata yang mumpuni.Demi menggenjot promosi dan infrastruktur itu, Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara menggelar sosialisasi Branding Pesona Indonesia.
Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara, dalam pertemuannya menghadirkan pemerintah, akademisi, pers dan ekonomi kreatif serta komunitas pemerhati wisata itu bertujuan menyamakan persepsi tentang strategi menjual destinasi wisata di Sulawesi Tenggara. Dimana pemerintah Sulawesi Tenggara harus menciptakan kebijakan baru yang benar-benar bisa menggenjot pariwisata yang ada di Sulawesi Tenggara.
Banyak objek wisata di Sultra yang belum dijamah dan dilengkapi dengan infrastruktur penunjang. Saat ini Pemprov Sultra dan kabupaten intens berkoordinasi guna membangun aset wisata di daerah masing-masing. Sementara Pemprov akan mendukung dalam bentuk lobi-lobi anggaran dan promosi itu. Dimana saat ini Pemprov sudah kerja sama dengan ASITA (Association of the Indonesia Tours adan Travel Agencies) untuk mengangkat potensi wisata Sulawesi Tenggara. Kemudian juga dengan hotel-hotel di Sulawesi Tenggara.
Destinasi Kepariwisataan di Sulawesi Tenggara terus mendapat perhatian serius oleh pemerintah daerah dan pusat untuk dikembangkan sebagai wisata nasional. Potensi wisata yang cukup menjanjikan tersebut, Sultra masuk 10 besar yang menjadi skala Prioritas Pemerintah Pusat untuk dikembangkan menjadi wisata nasional.
potensi wisata yang ada di 17 Kabupaten Kota di Sultra, bukan saja dapat meningkatkan Pendapatan Asli  daerah bagi pemerintah kabupaten, tetapi juga peningkatan kesejahteraan mayarakat. Untuk itu Pemerintah Provinsi dan Kabupaten terus mendorong agar potensi kepariwisaan yang ada di Sultra terus ditingkatkan dan dikembangkan, termasuk mendorong pengalokasian anggaran melalui APBD dan APBN. “Potensi Wisata di Sultra masuk dam 10 skala prioritas yang dicanangkan untuk pengembangannya oleh pemerintah Pusat.
Dalam PP 50 tahun 2011, rencana induk pengembangan pariwisata, Sultra dibagi menjadi empat KPPN yang meliputi KPPN Kendari dan sekitarnya, Baubau, Wakatobi dan Konsel. Disebutkannya, khusus untuk di KPPN Kota Kendari dan sekitarnya sudah dalam pembangunan, salah satunya adalah penataan kawasan teluk Kendari dan pulau Bokori.Sedangkan untuk di Kabupaten Konsel dan sekitarnya yakni pulau hari dan Pulau Towea yang ada di Kabupaten Muna.
Pembangunan pariwisata khususnya infrastruktur menuju destinasi tidak bisa dilakukan hanya satu sektor saja, sehingga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Olehnya itu, para kepala daerah di Sultra harus berani berkomitmen untuk peningkatan sektor pariwisata di daerah masing masing.
Adapun obyek-obyek wisata daerah yang tengah kami kembangkan yakni Napabale, Towea dan pulau Lima. Sedangkan dibidang budaya dan tradisi ada perkelahian kuda dan festival layang-layang atau kaghati.
2.3 Faktor-faktor  yang  berperan  dalam  pengembangan industri pariwisata dalam meningkatkan pendapatan asli daerah
Upaya pengembangan industri panriwisata daerah-daerah di Sulawesi Tenggara terutama dalam menghadapi otonomi daerah berkaitan erat dengan berbagai faktor. Oleh karena itu perlu dipahami faktor-faktor yang secara faktual berperan dalam pengembangan industi pariwisata khususnya di daerah-daerah, yaitu:
Kualitas Sumber Daya Manusia
Salah satu kunci sukses pariwisata di Indonesia khususnya Sulawesi Tenggara adalah human resources development diberbagai subsistem pariwisata tersebut. Ini menunjukkan bahwa somber daya manusia yang berkualitas memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan industri pariwisata terutama ketika pemerintah Sultra mulai menerapkan kebijakan otonomi daerah.
Profesionalisme sumber daya manusia merupakan suatu tuntutan dalam menghadapi persaingan global dimana sumber daya manusia yang dibutuhkan adalah sumber daya manusia yang berkualitas dalam  mempunyai gagasan, inovasi dan etos kerja profesional. Tentu tidal mudah untul memperoleh tenaga-tenaga pro fesional di bidang pariwisata namun paling tidal harus ada upaya-upaya untuk meningkatkan keahlian dan ketrampilan tenaga kepariwisataan, sehingga pada akhirnya peningkatan kualitas sumber daya manusia terutama di daerah-daerah tujuan wisata berpengaruh positif pada perkembangan industri pariwisata daerah.
Promosi Kepariwisataan
Upaya-upaya pengenalan potensi-potensi budaya dan alam di daerah-daerah Sulawesi Tenggara dilakukan dengan jalan melakukan promosi kepariwisataan. Pada saat ini, di mana perkembangan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi demikian pesat maka diperkirakan akan terjadi persaingan di pasar global khususnya persaingan di bidang industri pariwisata. Oleh karenanya promosi kepariwisataan merupakan suatu strategi jim yang harus dilakukan secara berkesinambungan baik di tingkat internasional maupun regional.
Sehubungan dengan kebijakan pemerintah Indonesia mengenai penyelenggaraan otonomi daerah, maka masing-masing daerah diharapkan mampu menarik pars wisatawan baik mancanegara maupun domestik untuk berkunjung ke daerah tujuan wisata yang ada di Indonesia dengan jalan semakin meningkatkan promosi kepariwisataannya.
Sarana dan Prasarana Kepariwisataan
Motivasi yang mendorong orang untuk mengadakan perjalanan akan menimbulkan petmintaan-permintaan yang sama mengenai prasarana dan sarana kepariwisataan seperti jaringan telekomunikasi, akomodasi dan lain sebagainya. Dalam hal ini kesiapan sarana dan prasarana kepariwisataan merupakan salah satu faktor penentu berhasilnya pengembangan industri pariwisata daerah. Terlebih ketika program otonomi daerah diterapkan, maka masing-masing daerah dituntut untuk lebih memberikan perhatiannya pada penyediaan sarana prasarana kepariwisataan yang memadai dan paling tidak sesuai dengan standar intemasional.
Pengusahaan obyek dan daya tarik wisata meliputi kegiatan membangun dan mengelola obyek dan daya tarik wisata beserta prasarana dan sarana yang diperlukan. Dengan demikian perlu adanya pembangunan dan pengelolaan sarana prasarana di daerah-daerah tujuan wisata untuk mendukung penyelenggaraan pariwisata. 
Sarana prasarana tempat merupakan unsur pokok dalam mendalami kegiatan industri pariwisata. Apabila pembenahan dan pengelolaan sarana prasarana kepariwisataan ditelantarkan akan berakibat pada tidak tercapainya dampak positif industri pariwisata dalam peningkatan PAD, penciptaan lapangan kerja dan sebagai pendorong pembangunan daerah.
Ketiga faktor di atas merupakan faktor kritis. yang perlu mendapat perhatian serius dalam rangka pengembangan industri pariwisata daerah. Tujuan pengembangan industri pariwisata daerah dapat tercapai apabila ketiga faktor tersebut dilaksanakan secara terpadu dan berkesinambungan. Hanya saja perlu disadari bahwa pengembangan pariwisata sebagai industri memerlukan biaya yang tidak sedikit. Terlebih dengan mulai diterapkannya otonomi daerah, maka pola perencanaan yang terpadu mutlak diperlukan sebelum mulai dengan pengembangan industripariwisam.
Pada dasamya, perencanaan bermaksud memberi batasan tentang tujuan yang hendak dicapai dan menentukan tujuan yang dimaksudkan. Dengan demikian pengembangan industri pariwisata suatu daerah perlu mempertimbangkan segala macam aspek. Ini disebabkan industri pariwisata merupakan industri jasa yang tidak dapat berdiri sendiri, akan tempi selalu berkaitan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan berbagai sektor lain. Jadi maju mundumya industri pariwisata tidak hanya tergantung path sektor pariwisata saja.



BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Dari uraian pembahasan di atas dapat di simpulkan bahwa:
Strategi untuk meningkatkan PAD yang digagaskan oleh Fandeli (2000), yaitu: Strategi Pengembangan Pariwisata, Strategi Pengembangan Produk Wisata, Strategi Pemasaran dan Promosi Pariwisata, Strategi Penegmbangan Aksebilitas, Strategi Pengembangan prasarana untuk menunjang kegiatan pariwisata dan Strategi Pengembangan Usaha.
Demi menggenjot promosi dan infrastruktur itu, Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara menggelar sosialisasi Branding Pesona Indonesia.
Dalam pengembangan industri pariwisata ada beberapa faktor yang perlu dipahami diantaranya kualitas sumber daya manusia, promosi kepariwisataan dan sarana dan prasarana

3.2 SARAN
Dalam mengeksplorasi dan mengembangan potensi obyek wisata di Sulawesi Tenggara hendaknya memperhatikan faktor fisik supaya tidak merusak keseimbangan alam serta dalam pengembangan potensi obyek wisata seoptimal mungkin sehingga dapat mendukung pendapatan asli daerah Sulawesi Tenggara
pelayanan kepada wisatawan sehingga dapat meningkatkan kualitas potensi daya tarik wisata, sehingga banyak wisatawan yang tertarik untuk berkunjung ke daerah wisata Sulawesi Tenggara.


Warning!
Buat para readers tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas kuliah komunikasi pariwisataku, dan dikutip dari berbagai sumber. semoga bermanfaat buat para readers😀


Komunikasi Pariwisata sebagai Penunjang PAD SULTRA

Komunikasi Pariwisata Sebagai Media Promosi Dalam Penunjang Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tenggara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BE...